Nidn alvian toto wibisono Paling Seru

Nidn alvian toto wibisono Paling Seru

Unsur Ni mempengaruhi nilai kekerasan dan check this out tarik paduan Cu-Ni. Krus digunakan sebagai wadah penutup paduan tembaganikel dalam proses peleburan. Penambahan unsur Ni membentuk paduan isomorfus dan belum sampai di batas jenuh panambahan paduan. Namun, nilai dari ultimate tensile nidn alvian toto wibisono juga dipengaruhi dengan adanya cacat apvian. Beberapa material memiliki penyusutan volum masingmasing dan kebutuhan riser yang berbeda.


Cacat porositas shrinkage mempunyai bentuk yang nidn alvian toto wibisono bulat irregular. Sifat mekanik nidn alvian toto wibisono tergantung pada struktur kisinya. Ketika posisi ball tegak lurus dengan aliran maka fluida akan mengalir alviwn tekanan pun akan turun. Pada larutan padat isomorphus akan selalu memiliki jenis substitutional dan Gambar toto drain 2018 floor harga. Meskipun nilai absolut dari bidn sifat berbeda dari satu sistem ke sistem lainnya, bentuk kurva secara umum sama untuk semua sistem elemen paduan binary isomorphus. Unsur Ni mempengaruhi struktur mikro paduan Cu-Ni. Gergaji Gergaji yang digunakan adalah milik Lab.


View 17 Download 2. Surabaya, 27 Agustus KepadaYth. Beaker Glass5 buah Demikian surat peminjaman ini kami buat, atas perhatian Bapak kami mengucapkan terimakasih. Pendahuluan II. Surat Kuasa III. Surat Gugatan IV. Administrasi dan Proses Acara Perdata V. Alat-alat bukti Documents. Loan proposal adalah surat penawaran untuk pendanaan suatu Surat Permintaan Documents. Berikut Documents. Koordinator Kepala Laboratorium membuat surat keterangan bebas peminjaman alat-alat laboratorium Documents.

Surat Peminjaman Alat Documents. Surat Bukti Gadai adalah surat tanda bukti perjanjian pinjam Surat permohonan persetujuan penyitaan Surat penetapan persetujuan penyitaan. Surat permohonan pinjam pakai barang bukti Documents. Substitutional solid solution yaitu ketika logam terlarut akan menggantikan posisi logam pelarut pada struktur kristal.

Kondisi larutan padat ini biasanya terjadi ketika jari-jari salah satu atom hampir sama besar dengan jari jari atom kedua. Interstitial solid solution yaitu ketika logam terlarut akan masuk diantara logam pelarut pada struktur kristal.

Kondisi larutan padat ini biasanya terjadi ketika jari-jari salah satu atom jauh lebih besar dari jari jari atom kedua. Pada larutan padat isomorphus akan selalu memiliki jenis substitutional dan Gambar 2.

Solidifikasi dari paduan dimulai dengan penampakan dari partikel padat yang kecil nuclei dimana logam yang mengandung lebih tinggi temperatur melting akan berbentuk solid lebih dahulu. Pada inti kristal, lapisan secara berturut-turut dari fasa solid akan berkumpul, masing masing lapisan akan sedikit lebih kaya inti daripada lapisan pendahulu pada komponen cair yang rendah dan begitu seterusnya.

Fasa akhir padat akan terbentuk, dengan inti dimana logam yang memiliki lebih tinggi temperatur melting akan dikelilingi logam dengan temperatur melting lebih rendah. Kasus yang terjadi pada Gambar 2. Element lain tersebut biasanya disebut impurity. Nyatanya, paduan digunakan pada logam untuk memperbaiki kekuatan mekanik dan ketahanan korosi. Paduan dengan tembaga secara signifikan meningkatkan kekuatan mekanik tanpa menurunkan ketahanan korosi.

Penambhan impurity pada suatu logam akan menghasilkan formasi atau bentuk solid solution dan atau sebuah phase kedua yang baru, tergantung dari jenis impurity, komposisinya, dan temperatur paduan. Beberapa istilah yang berhubungan solid solutution dan impurity ialah zat terlarut solute dan zat pelarut solvent.

Zat pelarut solvent mewakili element dari jumlah yang banyak yang terdapat pada paduan atau disebut host atoms. Zat terlarut solute ialah sebuah element yang terkecil dalam Solid solution terbentuk ketika atom zat terlarut solute ditambahkan di host material, struktur kristal tetap seperti bentuk awal dan tidak terbentuk struktur yang baru. Ketika dua larutan yang saling dapat melarutkan, larutan tersebut menghasilkan campuran yang homogen.

Larutan padatan juga dapat berbentuk homogen, atom pengotor atau impurity secara acak dan seragam menyebar didalam padatan. Cacat titik impurity ditemukan didalam larutan padatan, yang terdiri dari dua tipe yaitu substitutional dan interstitial.

Untuk tipe substitutional, zat terlarut atau atom impurity atau pengotor mengantikan atom host. Ada beberapa ciri dari atom pelarut dan pelarut yang menentukan tingkat dimana pelarut pertama dilarutkan dalam yang terakhir, sebagai berikut: 1. Ukuran atom, jumlah zat terlarut yang cukup besar dapat dikelompokan kedalam tipe larutan padatan hanya ketika adanya perbedaan jari-jari atom antara 2 tipe atom. Sebaliknya ketika atom zat terlarut akan membentuk distorsi kisi dan akan membentuk fasa baru 2.

Valensi, logam akan memiliki kecenderungan melarutkan logam lain dengan valensi lebih tinggi daripada valensi yang lebih rendah D. Pasir ini sangat cocok untuk cetakan karena tahan temperatur tinggi tanpa terjadi pengurain, harganya murah, tahan lama dan butirnya mempunyai bermacam tingkat ukuran besar dan bentuk. Pasir silica murni tidak dapat dimanfaatkan untuk membuat cetakan karena tidak memiliki daya pengikat. Bentonite adalah sejenis abu vulkanik yang telah lapuk. Untuk mendapatkan kekuatan tersebut, diperlukan campuran yang ideal.

Pada Gambar 2. Rao, Gambar 2. Rao, Pada Gambar 2. Gating systems merupakan seluruh elemen saling terkoneksi dengan logam cair dari ladle sampai ke cetakan. Pouring basin Laporan Tugas Akhir 24 Gambar 2. Logam cair tidak secara langsung dituangkan kedalam cetakan karena dapat menyebabkan erosi Logam cair.

Logam cair dituangkan ke dalam pouring basin atau cawang tuang yang berfungsi sebagai wadah awal dan kemudian logam cair berpindah secara perlahan ke dalam sprue. Pouring basin dapat mencegah slag masuk kedalam rongga cetakan. Logam cair saat penuangan akan menghadapi metal momentum yang terserap dan membentuk pusaran yang dapat dihindarkan dengan membuat salah satu dinding pouring basin dimiringkan 45 o terhadap horizontal. Dalam spesial aplikasi, pouring basin memiliki bagian yang dapat menjebak slag agar tidak masuk kedalam cetakan P N.

Rao, Sprue Gambar 2. Rao, Sprue merupakan bagian yang meneruskan logam cair ke bagian lain atau tempat masuknya logam cair ke runner dan gate yang akhirnya logam cair akan masuk ke dalam rongga cetakan. Ketika logam cair mengalir dari atas cope ke parting plane, kecepatan aliran akan meningkat dan sebagai konsekuensinya membutuhkan area yang kecil untuk dilalui logam cair.

Sprue terdiri dari dua tipe yaitu straight sprue dan tapered sprue. Jika menggunakan straight sprue, tidak semua logam cair akan dialiri ke bawah sehingga menimbulkan ruang kosong yang dapat di isi oleh udara yang dapat terbawa ke rongga cetakan.

Sprue Base Well Sprue base well merupakan bagian yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan awal logam cair ketika mengalir dari atas turun ke bawah. Fungsi dari sprue base well ialah mengurangi efek dari momentum logam cair. Logam cair yang mengalir dari sprue meningkatkan kecepatannya yang dapat menyebabkan erosi cetakan.

Dengan menggunakan sprue base well, erosi cetakan dapat berkurang dan arah aliran logam cari dapat berubah yang kemudian mengalir ke runner dan gate dengan aliran yang seragam. Runner Gambar 2. Rao, Secara umum terletak horizontal dengan parting plane yang mana terhubung dengan sprue dan ingate.

Dalam prakteknya, runner berada didalam cope dan ingate berada didalam drag. Alasan dilakukan pemisahan antara gate dan runner ialah agar menjadi perangkap slag agar tidak masuk kedalam rongga cetakan. Untuk perangkap slag yang efektif, runner harus mengikuti seperti di Gambar Ketika sejumlah logam cair datang dari sprue lebih dari jumlah yang mengalir ingate, runner akan akan penuh dan akhirnya perangkap slag akan terjadi.

Untuk mendapatkan luas runner, maka diperlukan ratio pembanding antara sprue, runner dan ingate yang dapat dilihat pada Tabel 2. Rao, Gate atau biasa disebut juga ingate merupakan tempat masuknya aliran logam cair ke rongga cetakan. Bentuk dari ingate harus dapat dipisahkan dari benda hasil corannya setelah solidifikasi dan juga bentuk ingate dapat membuat logam cair masuk dengan cepat ke rongga cetakan.

Menurut aplikasinya, ingate terdiri dari berbagai macam jenis yaitu: a. Top gate yaitu tipe gate dimana logam cair masuk ke dalam rongga cetak dari atas.

Karena logam cair masuk dari atas, hal tersebut dapat membuat erosi cetakan. Bottom gate yaitu tipe gate dimana logam cair masuk ke rongga cetakan dengan perlahan dan tidak menyebabkan erosi cetakan. Bottom gate juga membutuhkan sprue khusus dan juga membutuhkah riser yang besar karena aliran logam cair dari gate ke rongga cetakan sangat lambat. Parting gate yaitu jenis gate secara luas digunakan, logam cair masuk di dalam gate yang terbagi dua parting line antara drag dan cope.

Dari semua jenis gate, parting gate yang lebih murah. Step gate yaitu jenis gate yang digunakan untuk pengecoran dalam jumlah besar dan berat. Step gate terdiri dari beberapa yang tersusun secara vertikal.

Gate tipe ini memastikan bahwa erosi cetakan tidak terjadi P N. Sedangkan menurut letak masuk logam cair, jenis ingate terdiri dari top gate, bottom gate dan parting. Hal ini dapat dilihat pada Gambar Gambar 2. Riser Kebanyakan paduan mengalami penyusutan selama solidifikasi. Akibat dari penyusutan tersebut menyebabkan kekosongan pada benda coran.

Oleh karena itu, diperlukan cadangan logam cair yang tetap panas selama solidifikasi berlangsung dan diharapkan mengisi kekosongan yang disebabkan proses penyusutan benda coran. Cadangan logam cair tersebut disebut riser. Beberapa material memiliki penyusutan volum masingmasing dan kebutuhan riser yang berbeda. Ini ditunjukan pada Tabel Untuk membuat riser yang efektif, riser harus di desain sebagai berikut: a.

Logam cair di riser harus mengalami solidifikasi terakhir b. Volum riser harus cukup mengisi penyusutan pada benda coran P N. Ada dua metode dalam perhitungan volume riser yaitu dengan metode caine s dan metode Naval Research Laboratory P N. Metode caine s menggunakan grafik tersebut untuk mendapatkan volum riser.

Metode naval research laboratory menggunakan grafik tersebut untuk mendapatkan volum riser. Ketika jarak riser dengan benda coran terlalu jauh, dimungkinkan bagian yang terjauh dari riser tidak dapat terisi oleh logam cair cadangan dari riser. Oleh karena itu, riser memiliki batas jangkaun untuk dapat mengisi atau dapat mengaliri logam cair.

Hal ini dapat dilihat pada Gambar 2. Rao, Setelah menentukan jarak riser, dilakukan perhitungan selanjutnya untuk mendapatkan jenis riser yang tepat untuk digunakan. Ada 3 jenis riser yaitu open riser, riser dengan toping, dan riser dengan toping dan selimut. Hal ini dapat dilihat pada Gambar Shrinkage Allowance Semua logam ketika proses pendinginan akan mengalami penyusutan atau shrink. Ini dikarenakan adanya getaran interatomic sehingga atom-atom tersebut membesar dengan naiknya temperatur.

Ada dua jenis penyusutan yaitu liquid shrinkage dan solid shrinkage. Liquid shrinkage ialah penyusutan volum logam yang terjadi akibat perubahan liquid menjadi solid. Untuk mendapatkan hasil coran yang baik, tidak bisa logam cair dituangkan ke rongga cetakan sesuai bentuk dan dimensi komponen. Oleh kaarena itu diperlukan kelonggaran allowance saat pembuatan pattern. Tiap material coran memiliki kelonggran allowance yang berbeda, hal itu dapat dilihat pada Tabel 2.

Maka dengan menggunakan Tabel 2. Ketika pola di ambil atau dilepaskan dari pasir, gesekan antar permukaan pola dan pasir menyebabkan pasir dapat runtuh atau terkikis. Oleh karena itu, diperlukan pattern yang memiliki sudut agar memudahkan untuk mengambil pattern dari pasir. Tiap material pattern memiliki draft allowance yang berbeda dan juga tiap ketinggian pattern memiliki nilai draft yang berbeda. Ini ditunjukan dengan Tabel 2.

Untuk mendapatkan hasil yang bagus dan dimensi yang akurat dilakukan proses machining. Oleh karena itu, dengan proses machining maka aka nada bagian yang akan dihilangkan agar mendapatkan coran yang baik. Machining allowance tergantung dengan logam coran, tipe cetakan yang digunakan, dan kompleksitas permukaan benda corannya. Hal ini dilihat pada Tabel 2. Rao, Dimension Allowance mm mm Bore Surface Cope side Up to 3 3 5,5 Cast iron Up to Cast steel , Up to 2 1,5 2 Non ferrous ,5 1, ,5 3 Sebagai contoh misalnya benda cor berupa steel dengan panjang, lebar dan tinggi yaitu mm x mm x 25 dan berbentuk balok.

Selanjutnya di tambahkan tiap-tiap dimensi benda cor tersebut P N. Rao, Crucible Furnace Secara umum untuk pengecoran skala kecil menggunakan crucible furnace.

Crucible secara umum dipanaskan dengan electric resistance atau gas flame. Logam atau bahan baku yang mau dilebur dilekan di dalam crucible furnace dengan dinding furnace yang dilapisi refactory tahan terhadap panas. Logam akan cair di dalam crucible akibat panas dari gas flame yang di masukan didalam crucible furnace.

Tipe furnace lebih fleksibel untuk beberapa paduan. Kualitas hasil peleburan dan temperatur melting dapat di kontrol P N. Brown John, Pada Gambar 2. Crucible dapat terbuat dari clay graphite atau silicon carbide.

Crucible dengan clay graphite terdiri dari spesial graphite dengan clay sebagai agen pengikat. Pengikat clay berbentuk ikatan sebuah keramik, beberapa silicon carbide ditambahkan yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan thermal shock. Graphite memberikan konduktivitas thermal dan elektrikal serta ketahanan saat peleburan. Sedangkan crucible dengan silicon carbide terdiri dari SiC dan graphite spesial serta pengikatnya berupa pengikat carbon menggunakan aspal atau resin.

Di sisi lain, silicon carbide lebih mahal dibandingkan clay graphite dikarenakan umur pakai yang lebih lama R. Brown John, Corrosion rate Korosi secara umum yaitu serangannya seragam di seluruh permukaan. Tingkat korosi dapat diukur, dapat diprediksi dan dapat dirancang faktor keselamatan yang dibutuhkan. Tingkat korosi secara umum sering ditentukan dalam kondisi laboratorium dengan menggunakan larutan kimia murni. Indikator yang paling umum dan yang digunakan dalam sejumlah "manual korosi" adalah pita korosi, seperti ditunjukkan pada Tabel 2.

Reinhart Fred M, 2. Solid akhir tersusun dari inti bagian yang mempunyai melting tinggi dan masing-masing inti tersebut membentuk unit dan masing-masing unit dikelilingi oleh material yang memiliki melting yang lebih rendah.

Mayoritas pembekuan logam oleh formasi ini disebut dendrit atau disebut treelike growths yang bercabang tebal sebagai proses pembekuan sampai semua kekosongan terisi oleh solid dan berlanjut sampai berkembanganya Kristal.

Oleh sebab itu, struktur inti kebanyakan logam yang memiliki geometri dendrit. Kondisi ini terkadang merunnjuk pada densritic segregation. Dengan menggunkana mikroskop, terlihat bagian percabangan dendrit yang muncul. Bagian yang terang pada struktur ialah logam yang memiliki melting yang tinggi atau awal pengintian sedangkan bagian yang gelap ialah logam yang memiliki melting yang lebih rendah atau akhir membeku. Sifat structure insensitive berupa densitas yang dapat berubah dengan variable eksternal, temperatur, tekanan, dan komposisi.

Perubahannya secara ideal ialah secara linear. Jika kondisinya konstan tidak ada faktor eksternal dan komposisi divariasikan maka ditemukan perubahan sifat secara tidak linear atau dapat dikatakan berubah secara kuadratik yang melalui titik maksimum dan minimum. Perubahan sifat sangat cepat dengan penambahan elemen paduan ke komponen logam lain dan berlanjut sampai titik maksimum dan selanjutnya mengalami penurunan. Meskipun nilai absolut dari beberapa sifat berbeda dari satu sistem ke sistem lainnya, bentuk kurva secara umum sama untuk semua sistem elemen paduan binary isomorphus.

Frederick, 2. Porositas pada produk cor dapat menurunkan kualitas benda tuang. Salah satu penyebab terjadinya porositas pada penuangan logam adalah gas hidrogen. Porositas oleh gas hidrogen dalam paduan akan memberikan pengaruh yang buruk pada kekuatan, serta kesempurnaan dari benda tuang tersebut. Penyebab porositas antara lain kontrol yang kurang sempurna terhadap absorbsi gas oleh paduan, pegeluaran gas dari dalam logam karena interaksi antara gas dengan logam selama peleburan dan penuangan, perbedaan suhu yang sangat tinggi antara cetakan dengan logam cair yang dituang.

Proses pembekuan diawali pada bagian logam cair yang lebih dahulu mengenai dinding cetakan. Disebabkan oleh suhu dinding cetakan yang sangat rendah dibandingkan dengan suhu logam cair.

Pembekuan yang cepat dan proses pendinginan yang tidak merata mengakibatkan sejumlah gas terperangkap, sehingga terbentuk pori. Cacat ini dapat dihindari dengan penuangan logam yang cukup temperature, mengontrol jumlah gas yang dihasilkan oleh material pengurangan unsur Si dan P akan sangat membantu.

Cacat porositas gas disebabkan karena adanya pembentukan gas ketika logam cair dituangkan. Cacat porositas gas berbentuk bulat akibat tekanan gas ini pada proses pembekuan. Bentuk cacat gas seperti yang terlihat pada Gambar Gambar 2. Cacat porositas shrinkage mempunyai bentuk yang tidak bulat irregular.

Ukurannya lebih besar jika dibandingkan dengan cacat porositas gas. Penyebab adanya cacat porositas shrinkage adalah adanya gas hidrogen yang terserap dalam logam cair selama proses penuangan, gas yang terbawa dalam logam cair selama proses peleburan, dan pencairan yang terlalu lama.

Bentuk cacat porositas shrinkage seperti yang terlihat pada Gambar 2. Mekanisme pembentukan lapisan pasif nikel di awali pada penelitian dengan menggunakan anoda nikel didalam alkalin beterai dan dihubungkan dengan media alkaline. Lapisan pasif nekel terjadi karena adanya formasi proteksi oxide atau hydrated oxide dalam beberpa nanometer dari adanya lapisan oxide film dan terjadi karena adanya chemisorbed dari lapisan oxide atau O 2.

Ellipsometric merupakan teknik untuk mengukur ketebalan lapisan pasif baik di larutan alkaline dan larutan asam. Hal ini terbentuk dengan adanya proses keadan solid yang melibatkan nucleation dan pertumbuhan lapisan.

Dalam beberapa kondisi alkaline, kosentrasi larutan pada temperatur tinggi menyebabkan ketebalan film terbentuk. Di dalam larutan asam, lapisan pasif berhubungan dengan meningkatnya konduktivitas electronic film oxide, dilengkapi oleh perubahan stoikiometri, dan selanjutnya oxidase. Meningkatnya konduktifitas elektronik menyebabkan berkurangnya electric field sepanjang lapisan film yang dikarenakan berkurangnya transfer ion logam ke lapisan film.

Pre-pasif film dianggap menjadi Ni OH 2 terbentuk oleh proses pengendapan dissolution. XRD mempelajari hubungan dengan percobaan electrochemical dan juga mengidentifikasikan bahwa oxidase anodic dari nikel menghasilkan oxide non-stoikiometri komposisi NiO.

Lapisan pasif didapatkan dari ukuran potensial decay pada elektroda nikel dan juga ukuran polarisasi anodic yang mana oxidase reduksi proses yang dilalui beberpa tahapan pada potensial yang mendekati prediksi thermodinamika.

Shreir, 2. Pada gambar 2. Analisis XRD mengungkapkan semua sampel menunjukkan struktur kubik dari dua bidang dan Cu-Ni,13, dengan nama fasa copper. Tidak ada puncak pengotor Ni yang terdeteksi pada semua sampel karena hanya dua puncak yang ada. Peak Ni tidak muncul pada hasil pengujian XRD ini. Hal ini disebabkan karena unsur Ni larut sempurna ke dalam unsur Cu.

Hal itu diasumsikan karena komposisi tembaga maka perubahan kisi yang ditempati oleh Cu dan Ni menyebabkan sampel dengan kandungan tembaga lebih tinggi pada susut kecil. Konstanta kisi a yang diperoleh dari jarak antarplanar d nilai yang sesuai dengan bidang adalah 0,8 A yang lebih rendah dari konstanta kisi aktual Cu dan Ni sehingga memberikan kontribusi terhadap pembacaan yang lebih rendah pada lembaran bacaan.

Hasil Pengujian Tensile Pada penelitian yang dilakukan oleh D. Tensile test dilakukan dengan memberikan perlakuan panas berupa anneal, pemanasan dalam electric furnace pada temperatur ,,, dan o F lalu di holding selama satu jam sebelum dilakukan uji tarik.

Tensile spesimennya dengan ukuran diameter 0, in dan reduced section 2 in. Lalu hasil di penelitian tersebut didapatkan grafik stress strain pada gambar 2. Jenkins, Ilangovan , paduan Cu-Ni-Sn disiapkan dengan menggunakan proses peleburan. Peleburan dilakukan di dalam crucible furnace dibawah atmosfer argon dan dicetak di dalam cetakan pasir. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah mengetahui efek dari perlakuan panas dan proses aging pada paduan Cu-Ni-Sn.

Beberapa spesimen pun disiapkan. Setelah spesimen selesai dilebur dan dicetak pada cetakan pasir, dilakukan proses homogenisasi dan waktu aging 3 jam. Pengujian dengan menggunakan metode metalografi pun dilakukan. Lalu dilakukan pengamatan di bawah mikroskop optik. Di bawah ini adalah Gambar 2. Gambar 2 merupakan struktur mikro yang sudah dilakukan proses homogenisasi. Seperti yang dilaporkan sebelumnya, dekomposisi spinodal dan reaksi struktur tersusun akan mempengaruhi struktur mikro selama proses homogenisasi.

Struktur yang termodular dan tersusun tersebut tidak bisa diamati melalui mikroskop optik. Gambar 3 menunjukkan struktur mikro dari paduan Cu-6Ni-8Sn yang sudah mengalami proses aging selama 3 jam. Ketika spesimen sudah diberi perlakuan aging, presipitat akan muncul di sepanjang batas butir. Butir-butir yang terlihat pun lebih halus dari sebelumnya akibat dari proses ini.

Gambar 3. Nikel sheet Ni Nikel yang digunakan dalam penelitian ini berupa nikel dalam bentuk lembaran untuk aplikasi material elektronik. Nikel ditunjukkan pada Gambar 3. Crucible furnace Alat untuk melebur logam yang digunakan dalam penelitian ini adalah crucible furnace dengan bahan bakar gas LPG propana yang ditambahkan oleh oksigen berasal dari blower. Gas LPG dan blower disambungkan ke pipa.

Pipa disambungkan ke crucible furnace agar menghasilkan panas. Krus Krus yang digunakan berupa krus yang terbuat dari bahan grafit. Krus digunakan sebagai wadah penutup paduan tembaganikel dalam proses peleburan. Pola Cetakan Komponen Pola cetakan komponen digunakan untuk membuat cetakan hasil coran pada cetakan pasir. Pola cetakan hasil coran disesuaikan dengan standar pengujian yang akan dilakukan. Contoh pola cetakan yang akan dilakukan pada pengujian tarik ditujukan oleh Gambar 3.

Kertas Amplas Kertas amplas didapatkan dari toko bahan bangunan di Keputih. Kertas amplas digunakan untuk grinding permukaan spesimen. Gergaji Gergaji yang digunakan adalah milik Lab. Gergaji tangan digunakan untuk memotong bahan. Pengaduk Digunakan untuk mengaduk logam paduan cair.

Dibuat dengan baja tulangan yang ujungnya disambung dengan keramik. Flask Flask digunakan untuk membuat cetakan pasir 8. Digunakan untuk mengikis permukaan spesimen agar rata dan halus. Timbangan Timbangan yang digunakan adalah milik Lab. Digunakan untuk mengidentifikasi komposisi kimia dari paduan logam Digunakan untuk mengidentifikasi fasa kristalin dalam material dengan cara menentukan parameter struktur kisi serta untuk mendapatkan ukuran partikel Mikroskop Optik Mikroskop optik yang digunakan adalah milik Lab.

Digunakan untuk melihat struktur spesimen dalam skala mikro. Alat Uji Korosi Alat uji korosi yang digunakan adalah dengan metode polarisasi tafel milik Lab. Metode ini menggunkan elektroda pembanding untuk mengetahui laju korosi Mesin Uji Tarik Mesin uji tarik yang digunakan adalah milik Lab.

Digunakan untuk menguji kekuatan tarik dari spesimen paduan logam. Persiapan bahan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut : 1. Shrinkage Allowance Dengan menggunakan Tabel 2. Machining allowance Dengan menggunakan Tabel 2. Draft allowance Dengan menggunakan Tabel 2. Metode penelitian ini dilakukan dengan menggunkan pattern dengan berbahan kayu, maka dari Tabel 2. Melakukan perhitungan pada Gatting Sistem Tabel 3. Dari perhitungan gating sistem, didapatkan nilai berat casting sebesar 3,56 kg.

Dengan menggunkan komposisi masing-masing material di dapatkan berat masing-masing unsur. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 3. Menyiapkan cetakan pasir yang terdiri dari campuran pasir dan cetakan komponen. Pola cetakan pasir yang akan digunakan pada penelitian ini ditujukan oleh Gambar 3. Menyiapkan crucible furnace yang terdiri dari krus, furnace, gas LPG, glaswool, batu tahan api, dan blower seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 3.

Mengangkat batu tahan api dan glasswool di atas furnace, lalu mengaduk campuran logam yang sudah meleleh dengan menggunakan pengaduk besi sampai paduan logam tercampur secara homogen 7. Mengangkat krus dan menuangkan molten metal ke dalam cetakan yang telah disiapkan 8. Mendinginkan logam paduan yang masih cair di dalam cetakan hingga mencapai temperatur kamar 9. Mengeluarkan logam paduan dari cetakan Prinsip kerja pada pengujian XRD adalah ketika suatu material dikenai sinar X, maka intensitas sinar yang ditransmisikan lebih rendah dari intensitas sinar datang.

Hal ini disebabkan adanya penyerapan sinar X oleh material dan penghamburan oleh atom-atom dalam material tersebut. Berkas sinar yang dihamburkan tersebut ada yang saling menghilangkan karena fasanya berbeda dan ada juga yang saling menguatkan karena fasanya sama. Berkas sinar X yang saling menguatkan itulah yang disebut berkas difraksi.

Efekfotolistrik terjadi karena elektron dalam atom target sampel terkena berkas berenergi tinggi radiasi gamma, sinar-x. Bila energi sinar tersebut lebih tinggi dari pada energi ikat elektron dalam orbit K, L, atau M atom target, maka elektron atom target akan keluar dari orbitnya. Dengan demikian atom target akan mengalami kekosongan elektron. Skematik proses identifikasi dengan XRF tampak pada Gambar 3.

Jenis spektrum discreet yang terjadi tergantung pada perpindahan elektron yang terjadi dalam atom bahan. Spectrum ini dikenal dengan spektrum sinar-x karakteristik. Spektrometri XRF memanfaat-kan sinar-x yang dipancarkan oleh bahan yang selanjutnya ditangkap detektor untuk dianalisis kandungan unsur dalam bahan. Bahan yang dianalisis dapat berupa padat massif, pelet, maupun serbuk.

Analisis unsur dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. Analisis kualitatif menganalisis jenis unsur yang terkandung dalam bahan dan analisis kuantitatif dilakukan untuk menentukan konsetrasi unsur dalam bahan.

Sinar-X yang dihasilkan dari peristiwa seperti peristiwa tersebut diatas ditangkap oleh oleh detektor semi konduktor Silikon Litium SiLi. Alat yang digunakan pada pengujian ini adalah mikroskop optik. Struktur mikro yang terlihat akan dibandingkan dengan diagram fasa paduan.

Pengamatan dilakukan pada struktur mikro yang terbentuk adalah dengan memperhatikan pengaruh unsur paduan terhadap diagram fasa dan struktur mikro. Proses etsa dapat digunakan dengan cara dicelup maupun diusap selama beberapa detik sampai beberapa menit. Jika anoda dan katoda yang ada dalam suatu elektrolit terhubung singkat, maka reaksi-reaksi anodik dan katodik akan berlangsung secara serempak, disebabkan terbentuknya sistem mikrosel elektrokimia.

Korosi logam terjadi jika terdapat arus anodik yang besarnya sama dengan arus katodik. Hal ini disebabkan karena adanya beda potensial antara logam dan larutan elektrolit sebagai lingkungannya.

Beda potensial ini dinamakan dengan potensial korosi E. Sunarya, Penggunaan tahanan polarisasi yang paling utama adalah menentukan laju korosi. Laju korosi akan diperoleh berdasarkan kemiringan kurva potensial sebagai fungsi rapat arus di sekitar potensial korosinya.

EW adalah massa ekivalen logam g. Selain itu, uji ini juga dilakukan untuk mengukur ketahanan suatu material terhadap gaya statis yang diberikan secara lambat. Spesimen disiapkan sesuai dengan standar uji yang digunakan. Memasangkan spesimen pada alat pengujian dan pastikan spesimen terkunci pada grip.

Memberikan beban secara terus menerus sampai spesimen mengalami patah. Grafik uji tarik akan dihasilkan setelah pengujian selesai dilakukan. Pada Gambar 3. Kekerasan dapat diukur dengan cara pengujian menggunakan alat kekerasan Vickers Vickers Hardness Tester. Uji kekerasan vickers menggunakan indentor piramida intan yang pada dasarnya berbentuk bujur sangkar.

Besar sudut antar permukaan-permukaan piramida yang saling berhadapan adalah o. Nilai ini dipilih karena mendekati sebagian besar nilai perbandingan yang diinginkan antara diameter lekukan dan diameter bola penumbuk pada uji kekerasan brinell Dieter, Angka kekerasan vickers didefinisikan sebagai beban dibagi luas permukaan lekukan. Pada prakteknya, luas ini dihitung dari pengukuran mikroskopik panjang diagonal jejak.

Hal ini dapat dilihat pada Gambar 4. Seiring bertambahnya unsur nikel pada paduan Cu-Ni, maka logam cendurung berwarna abu-abu. Gambar 4. Paduan CuNi berwarna jingga. Warna jingga merupakan warna dasar tembaga. Hasil pengecoran tersebut memiliki defect atau cacat berupa cacat porositas. Paduan CuNi berwarna perak kejinggaan yang dikarenakan adanya penambahan unsur nikel pada logam paduan CuNi. Paduan CuNi berwarna jingga perak yang dikarenakan adanya penambahan unsur nikel pada logam paduan CuNi.

Paduan CuNi perak yang dikarenakan adanya penambahan unsur nikel pada logam paduan Cu-4Ni. Rancangan komposisi pada penelitian kali ini dapat dilihat pada Tabel 4. Pada paduan CuNi, hasil pengujian komposisi kimia berbeda dengan rancangan yang sudah dibuat. Selanjutnya Pada paduan CuNi, hasil pengujian komposisi kimia berbeda dengan rancangan yang sudah dibuat.

Berdasarkan hasil pengujian, unsur Ni lebih banyak mengalami pengurangan dibandingkan unsur Cu. Hal ini terjadi karena unsur Ni mengalami oksidasi selama proses peleburan. Menurut diagram ellingham, unsur Ni lebih mudah mengalami oksidasi karena memiliki Nilai Energi Bebas Gibbs yang lebih negatif dibandingkan unsur Cu. Unsur Ni lebih mudah bereaksi dengan oksigen membentuk nikel oksida NiO dan terlihat sebagai terak slag yang mengapung diatas logam cair.

Terak pada permukaan paduan Cu-Ni dihilangkan menggunakan alat gerinda. Namun berdasarkan pengujian tersebut, unsur Cu juga mengalami pengurangan. Hal ini disebabkan karena adanya unsur lain yang tercampur ke dalam paduan Cu-Ni sehingga unsur utama Cu dan Ni keduanya mengalami pengurangan.

Unsur lain tersebut adalah Fe yang berasal dari batang pengaduk. Batang pengaduk yang terbuat dari Fe meleleh selama proses pengadukan paduan Cu-Ni Komaruddin, Pola XRD hasil pengujian dapat dilihat pada Gambar 4.

Hasil pada Gambar 4. Fasa copper yang muncul ini memiliki struktur kristal cubic sesuai dengan nomor PDF Dari hasil pengujian XRD seluruh paduan logam, peak yang muncul menunjukkan peak Cu. Jika dipadukan, atom Ni menggantikan atom Cu pada struktur kristal sehingga membentuk larutan padat substitusional.

Larutan etsa yang digunakan adalah etsa kode 34 dengan bahan 5 gr FeCl 3, 50 ml HCl, dan ml aquades. Pemberian larutan etsa pada spesimen dilakukan dengan menggunakan metode swab. Swab dilakukan sebanyak kali. Hasil pengamatan struktur mikro seluruh paduan Cu-Ni dapat dilihat pada Gambar 4. Berdasarkan diagram fasa Cu-Ni paduan CuNi menjadi liquid semua pada temperature o C dan menjadi solid semua pada temperatur o C. Paduan CuNi menjadi liquid semua pada temperature o C dan menjadi solid semua pada temperatur o C.

Unsur Ni akan membeku terlebih dahulu dibandingkan unsur Cu. Pada proses pembekuan, inti Ni akan terlebih dahulu terbentuk. Ketika unsur Ni sudah habis, unsur Cu kemudian akan membeku. Bintik-bintik hitam pada bagian gelap merupakan porositas. Porositas terbentuk karena sudah tidak ada lagi unsur yang membeku. Porositas terlihat berukuran besar, berjumlah banyak, dan tersebar merata hampir di seluruh bagian struktur mikro Wibowo, Jumlah bintik bintik hitam atau porositas yang terlihat semakin sedikit.

Togel - Toto - HK - SDY - SGP - Macau - Syair HK - Syair SDY - Syair SGP